Asawika Volume 3 Tahun II – 2018 Y.A. Widriyakara S

PEMBENTUKAN RUANG TERBUKA BAGI MASYARAKAT KEBANGSREN GG.7 “KAMPUS GO TO KAMPUNG”

 

Y.A. Widriyakara S1), Josephine Roosandriantini2), Desrina Yusi. I3), Anas Hidayat4)

 

1) Dosen S1 Teknik Arsitektur, Fakultas Teknik, Unika Darma Cendika Surabayae-mail: widri_ukdc@yahoo.com

2) Dosen S1 Teknik Arsitektur, Fakultas Teknik, Unika Darma Cendika Surabaya

e-mail: arch_book2010@yahoo.com

3) Dosen S1 Teknik Industri, Fakultas Teknik, Unika Darma Cendika Surabaya

e-mail: desrina.yusi@gmail.com

4) Dosen S1 Teknik Arsitektur, Fakultas Teknik, Unika Darma Cendika Surabaya

e-mail: anashiday@yahoo.co.uk

Abstrak

 

Perkembangan kota dan pertumbuhan penduduk di permukiman yang semakin pesat memunculkan permasalahan di pemukiman. Permasalahan tersebut adalah fasilitas masyarakat dan ruang terbuka di kawasan permukiman menjadi berkurang. Kondisi tersebut juga membawa dampak pada beberapa kampung di wilayah Surabaya. Lahan di kampung semakin padat dan banyak pembangunan gedung di setiap sudut Kota Surabaya. Padahal ruang bersama kampung berfungsi sebagai simbol dari suatu masyarakat, terutama dalam suatu permukiman. Ruang bersama kampung menggambarkan budaya kebersamaan atau keguyuban. Keberadaan ruang bersama juga sesuai dengan budaya warga Surabaya yaitu cangkrukan. Cangkrukan berfungsi menjalin ikatan kekerabatan, kebersamaan dan keguyuban yang berlangsung setiap waktu dalam kehidupan warga kampung. Latar belakang masalah tersebut membuat tim pengabdian melakukan pengabdian masyarakat di Kampung Kebangsren Gg.7. Kampung Kebangsren Gg.7 merupakan permukiman padat penduduk yang masih bertahan di tengah kota Surabaya. Pengabdian masyarakat dilakukan di kampung Kebangsren Gg.7 untuk membantu warga Kebangsren menciptakan dan menata ruang bersama. Hal ini bertujuan mempertahankan budaya cangkrukan warga Surabaya.

 

Kata Kunci: Kebangsreng, Permukiman, Ruang Bersama

 

Abstract

The development of the city and population growth in settlements that increasingly rapidly raise problems in settlements. These problems are reduced community facilities and open spaces in residential areas. These conditions also have an impact on several villages in the Surabaya area. The land in the village is getting denser and there are many building developments in every corner of Surabaya. Whereas the village shared space serves as a symbol of a community, especially in a settlement. Space with the village illustrates the culture of togetherness or community. The existence of a shared room is also in accordance with the culture of Surabaya residents, namely cangkrukan. Cangkrukan functions to establish kinship, togetherness and community ties that take place every time in the life of the villagers. The background to the problem made the service team perform community service in Kebangsren Village G.7. Kebangsren Village Gg.7 is a densely populated settlement that still survives in the center of Surabaya. Community service is carried out in Kebangsren village Gg. 7 to help Kebangsren residents create and organize shared spaces. This is aimed at maintaining the culture of Surabaya residents.

 

Keywords: Kebangsreng, Settlement, Public Space

File dapat diunduh dengan tautan di bawah ini

universitas katolik ukwk asawika 5 widri.pdf